Senin, 19 Desember 2011

SEJARAH BENTENG KUTO BESAK


Kota yang baik adalah kota yang memiliki kenangan tahapan pembangunan, dimana kota
bagaikan mahkluk hidup yang tumbuh dan berkembang, kemudian mati apabila tidak terpelihara.
Hal ini menyiratkan bahwa suatu kota pasti memiliki kawasan bersejarah (Wijarnaka, 2005).
Kawasan bersejarah merupakan suatu kawasan yang didalamnya terdapat berbagai peninggalan
masa lampau dari terbentuknya suatu kota, baik berupa wujud fisik historis maupun berupa nilai
dan pola hidup masyarakatnya, serta kepercayaannya. Terbentuknya suatu kota pada dasarnya
dikarenakan oleh adanya aktivitas masyarakat yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana
sebagai penunjang aktivitas tersebut.
Setelah terbentuknya suatu kota, kemudian terjadinya perkembangan kota, dimana salah
satu aktivitas masyarakat yang mempengaruhinya yaitu aktivitas perdagangan. Aktivitas
masyarakat pada sektor perdagangan berdampak pada perkembangan perekonomian kota yang
membawa pengaruh perkembangan kota tersebut menjadi pusat kota perdagangan. Dengan kondisi
perekonomian tersebut secara langsung berdampak pada perkembangan permukiman menjadi
kawasan perkotaan. Hal ini terjadi pula pada Kota Palembang yang berkembang menjadi kawasan
perkotaan karena aktivitas perekonomian bergantung pada sektor perdagangan, selain itu Kota
Palembang didukung dengan adanya pelabuhan sebagai pusat aktivitas .
Perkembangan Kota Palembang menjadi kawasan perkotaan tidak terlepas dari sejarah
perkembangannya sebagai kota pelabuhan yang berada di bagian Ilir Sungai Musi. Pada abad ke-17
keberadaan pelabuhan berkembang pesat karena didukung oleh adanya Sungai Musi sebagai jalur
perdagangan penghubung jaringan pusat-pusat perniagaan Indonesia barat dengan jaringan
perdagangan Asia. Sejarah perkembangan Kota Palembang sebagai penghubung
perdagangan antar negara menyebabkan Kota Palembang mengalami perkembangan perekonomian
yang sangat pesat, selain itu diikuti dengan perkembangan fisik kota meliputi penggunaan lahan,
prasarana kawasan, bangunan, dan corak budaya yang memperlihatkan karakter Kota Palembang
pada masa tersebut.
Perkembangan Kota Palembang sebagai kota perdagangan dimulai pada masa Sriwijaya
(682-1365), Kesultanan Palembang Darussalam (1643-1821) dilanjutkan masa kolonialisme
penjajahan Belanda (1821-1945) dan sampai sekarang masa setelah Indonesia merdeka (1945-
sekarang. Salah satu kawasan yang memiliki peninggalan bersejarah berupa
2 bangunan, prasarana fisik dan benda bersejarah lainnya, dimana dapat dilihat pada bangunannya
memiliki corak arsitektur Jawa pada Kesultanan Palembang Darussalam, arsitektur Eropa oleh
Belanda, dan arsitektur Cina yaitu berada di Kawasan Benteng Kuto Besak.
Awal mula terbentuknya Kawasan Benteng Kuto Besak dimulai pada masa Kesultanan
Palembang Darussalam, dimana kawasan tersebut berfungsi sebagai pemerintahan dan merupakan
keraton Kesultanan Palembang yang tatanan bangunannya seperti keraton di Jawa, namun arah
keraton ke sebelah selatan karena dipengaruhi kepercayaan Cina. Kemudian Kesultanan Palembang
Darussalam runtuh karena dikalahkan penjajah sehingga kawasan tersebut diambil alih oleh
Belanda. Walaupun fungsi kawasan masih digunakan sebagai pemerintahan dan pertahanan dari
perlawanan rakyat Palembang dan penjajah asing lainnya, namun sebagian besar bangunan di
dalam kawasan dihancurkan dan dibangun bangunan serta prasarana penunjang untuk kepentingan
Belanda. Akan tetapi, adapula yang dilakukan penambahan ornamen dan pemugaran bangunan.
Setelah masa kolonialisme penjajahan Belanda berakhir, kawasan Benteng Kuto Besak pada masa
kemerdekaan sampai sekarang digunakan sebagai pemerintahan Kota Palembang dan kawasan
militer, dimana menempati bangunan bersejarah seperti kantor Ledeng digunakan sebagai Kantor
Walikota dan Benteng Kuto Besak digunakan KODAM II Sriwijaya. Selain itu, kawasan ini
difungsikan sebagai tempat wisata, perdagangan dan jasa, serta prasarana penunjang lainnya seperti
masjid dan rumah sakit.
Terjadinya perubahan pola struktur ruang kawasan yang diikuti dengan perubahan
pemanfaatan bangunan dari tiap zaman sehingga membentuk karakteristik khas kawasan. Dengan
adanya karakteristik khas tersebut dan letaknya yang strategis, maka pemerintah Kota Palembang
menetapkan kawasan ini menjadi kawasan wisata berdasarkan keputusan Walikota Palembang No.
782 Tahun 2004 dan pada tahun 2008 menggalakkan “Visit Musi 2008”, dimana salah satu obyek
wisata yang dijadikan tujuan wisata yaitu berada di kawasan Benteng Kuto Besak atau yang sering
disingkat dengan “BKB”. Hal ini juga tertuang pada RTRW Tahun 2004 dan RDTRK Pusat Kota
Tahun 2005 yang menyatakan bahwa kawasan Benteng Kuto Besak merupakan kawasan
konservasi atau kawasan cagar budaya yang dimanfaatkan sebagai kawasan wisata.
Walaupun pemanfaatan kawasan digunakan untuk kawasan pusat pemerintah dan militer
yang berfungsi sebagai pelayanan publik, namun aktivitas masyarakat didalamnya dapat
menghilangkan ciri khas bangunan atau berkurangnya nilai sejarah dilihat dari aspek pelestarian
karena adanya penambahan maupun perubahan salah satu sisi bangunan. Selain itu, pemanfaatan
kawasan tersebut kurang memiliki daya tarik sehingga pengunjung kurang menikmati suasana
kawasan peninggalan bersejarah tersebut. Ditambah pula, adanya desakan pertumbuhan
perekonomian kota Palembang sebagai kawasan perkotaan modern mengakibatkan bergesernya
nilai bangunan sejarah beserta prasarana fisik di kawasan tersebut. Hal ini dikarenakan pada
3 umumnya, kelestarian bangunan kuno terancam hilang dan rusak karena berada di lokasi yang
cukup strategis sehingga terkadang nilai ekonomis-komersial mengalahkan nilai-nilai lain yang
dimilikinya (Antariksa, 2007). Apalagi Kota Palembang belum memiliki peraturan daerah tentang
perlindungan benda-benda kuno bersejarah sebagai benda cagar budaya (Kompas, 21 Juni 2007).
Berdasarkan hasil wawancara terhadap pemerintah bahwa upaya pelestarian kawasan BKB
yang dilakukan pemerintah Kota Palembang hanya sebatas menjadikan kawasan tersebut sebagai
wisata dengan pembuatan plasa BKB, sitting group, dan dermaga kapal, dimana kawasan tersebut
ditujukan untuk wisata sungai atau air. Akan tetapi, tindak lanjut pelestarian terhadap peninggalan
bersejarah yang dapat dijadikan sebagai aset wisata berupa bangunan, prasarana fisik, dan
lingkungan kawasan masih belum dapat terlaksana dengan baik, mengingat kawasan tersebut
merupakan kawasan cagar budaya yang memiliki berbagai peninggalan bersejarah masa lampau
dan memiliki karakterisitik khas kawasan.
Selain itu, berdasarkan hasil observasi lapangan dan hasil kuesioner kepada masyarakat
dapat diketahui bahwa aktivitas wisata yang ada dikawasan tersebut kurang begitu berkembang
hanya digunakan sebagai tempat berkumpul, berkunjung ke museum, tempat diadakan pertunjukan
acara pada waktu-waktu tertentu saja, festival musik, festival seni dan budaya, dan bazzar.
Kebanyakan pengunjung hanya berkunjung ke museum dan melintasi kawasan BKB menuju ke
Dermaga Sungai Musi atau ke plaza BKB karena akses masuk hanya dapat dilewati dari kawasan
BKB dan berkunjung ke tempat wisata lainnya yang lebih menarik. Hal ini dikarenakan atraksi
berupa bangunan kuno yang bernilai historis kurang terawat, tidak memiliki aktivitas wisata yang
menarik dan kurangnya fasilitas pendukung. Walaupun kegiatan berwisata di kawasan BKB
didukung dengan aktivitas perdagangan, seperti PKL, restoran dan warung makan, tetapi kurang
tertata dan belum lengkap seperti belum adanya penjualan souvenir khas Palembang.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka diperlukan pelestarian agar dapat melindungi
peninggalan bersejarah berupa bangunan, prasarana fisik, benda fisik lainnya sebagai aset wisata
sehingga identitas kota yang khas tidak hilang akibat perkembangan kota ke arah modern di
Kawasan Benteng Kuto Besak. Oleh karena itu, penelitian mengenai Kajian Pelestarian Kawasan
Benteng Kuto Besak Palembang Sebagai Aset Wisata perlu dilakukan sehingga dapat diketahui
upaya pelestarian yang sesuai diterapkan pada Kawasan Benteng Kuto Besak sebagai kawasan
benda cagar budaya yang bermanfaat ekonomi dengan tetap mempertahankan identitas kawasan
untuk mendukung kawasan menjadi tujuan wisata.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar